|

Tujuh Pasang Calon, Dibantai Dua Panelis


Debat publik antar calon wali kota dan wakil wali kota yang digelar Komisi Pemilihan Umum Payakumbuh di GOR Muhammad Yamin Kubu­gadang, Sabtu (7/7) malam, berlangsung seru. Meski materi yang disampaikan ketujuh pasang calon dinilai panelis masih normatif, tapi ratusan penonton tetap bertahan sampai debat itu berakhir.

Debat publik pada Sabtu malam, mengangkat tema "Pe­negakan Hukum, Demokrasi dan Tata Kelola Pemerintahan yang Baik". Debat dipandu reporter lapangan antv Dona, dengan menghadirkan dua pa­nelis, yakni pengamat hukum tata negara Suhairizal dan pe­ngamat kebijakan publik Eka Vidya Putra.

Debat yang disaksikan Ketua KPU Sumbar Marzul Veri ber­sama Komisioner KPU Sumbar Ardyan tersebut, diawali dengan penyampaian visi-misi pasa­ngan calon di bidang penegakan hukum, demokrasi dan tata kelola pemerintah yang baik. Setiap calon, diberi kesempatan menyampaikan visi-misi selama 1,5 menit, kemudian menjawab pertanyaan panelis 3 menit.

Saat Desra-Fitma tampil, panelis Suharizal menanyakan komitmen Desra-Fitma, dalam menindaklanjuti temuan Badan Pemeriksaan Keuangan. Desra-Fitma, menyatakan siap. Se­dang­kan, panelis Eka Vidya Putra, menanya soal kebijakan apa yang dilakukan Boy-Eka, menyikapi Undang-Undang Pelayanan Publik.

Setelah Desra-Fitma tampil, giliran pasangan Mulyadi-Edward yang menyampaikan visi-misi. Panelis Suharizal, ‘mem­bantai’ Mulyadi dengan perta­nyaan, bagaimana memisahkan bisnis dengan pemerintahan, kalau terpilih sebagai kepala daerah. Dengan tenang, Mulyadi menjawab, dia memang memili­ki perusahaan konsultan lingku­ngan hidup. Perusahaan terse­but siap dia tinggalkan, kalau terpilih sebagai kepala daerah.

”Saya juga tidak banyak, memiliki teman-teman pengu­saha,” ucapnya. Sementara, Eka menanyakan kon­sep pendeka­tan budaya yang dilakukan Ma­ward, kalau ter­pilih sebagai kepala daerah. Mulyadi me­nyam­paikan ren­cana, mem­berdayakan peranan tungku tigo sajarangan (niniak mamak, alim ulama, cadiak pandai).

Selanjutnya, giliran pasa­ngan Almaisyar-Dedrizal yang menyampaikan visi-misi dengan semangat. Melihat semangat Almaisyar, Suharizal pun me­nanyakan konsep reformasi birokrasi yang akan dilakukan Almaisyar. Namun, Almaisyar lebih banyak bicara soal niatnya berbuat baik untuk Paya­kum­buh yang lebih baik.

Jawaban Almaisyar kurang memuaskan Suharizal, se­hing­ga dia pun bertanya dengan naa sedikit keras. ”Bapak menyebut akan melakukan akuntabilitas dan transparansi sosial, bagai­mana caranya?” tanya Suharizal. Almaisyar, sempat terdiam, penonton pun bersorak. Huuu...

Setelah itu, Almaisyar de­ngan nada agak tinggi, langsung memberi penjelasan. ”Beri ke­per­cayaan kepada pasangan Almaisyar-Dedrizal. Pasangan nomor urut tiga. Masalah trans­pransi sosial dan akuntabilitas, akan kami jawab dengan kerja nyata,” ucap bekas bos PT As­krida Kaltim itu.

Berikutnya, giliran pasangan Syamsul Bahri-Weri Yunaladi yang tampil. Buat pasangan ini, pa­nelis Suharizal menanyakan visi-misi Syamsul membangun Payakumbuh mandiri. ”Bagai­ma­na bisa membangun Paya­kum­buh yang mandiri, semen­ta­ra dari sisi anggaran, Paya­kum­buh masih bergantung dari dana alokasi umum,” tanya Suharizal.

Syamsul menjawab, akan melaksanakan pembangunan mulai dari bawah. Setelah itu, Suharizal menanyakan efek­tifitas Perda yang dibentuk dan komitmen pemberantasan ko­rup­si Syamsul-Weri. Sedangkan, Eka menanyakan soal pajak dan retribusi daerah, apakan akan tetap menjadi sumber penda­patan asli daerah terbaik.

Syamsul menyebut, pajak dan retribusi, masih akan tetap diandalkan untuk menambah pendapatan asli daerah. ”Lantas, bagaimanan dengan Peraturan Mendagri yang mengamanatkan Pelayanan Perizinan Terpadu Satu Pintu, tidak diberi target pendapatan asli daerah?” ujar Eka balik bertanya.

Syamsul menyebut, kalau Peraturan Menteri memang sudah mengamanatkan demi­kian, dia siap memberi pelaya­nan gratis bidang perizinan, di kantor pelayanan perizinan. ”Ini sama-sama kita dengar. Nanti, kalau tidak terbukti, rakyat akan menagih Syamsul-Weri,” ujar Eka yang dikenal sebagai pen­dorong lahirnya Kantor Pela­yanan Perizinan Terpadu di Kabupaten Limapuluh Kota.

Terhadap pasangan Riza Falepi-Su­wan­del Muchtar, Su­ha­rizal, memberi pertanyaan cukup menyengat buat pasa­ngan ini. ”Apa yang akan bapak lakukan, kalau terpi­lih nanti? Apa langsung merom­bak ka­binet?” tanya Suharizal.

Riza menyebut, akan melihat dan mempelajari dulu kondisi birokasi. ”Kita tidak bisa lang­sung ganti. Kita lihat dulu, konsep mereka, baru kita laku­kan evaluasi,” ujar Riza. ”Lalu, bagaimana dengan masyarakat di luar Payakumbuh yang dulu mendukung bapak untuk men­jadi anggota DPD? Pertang­gungjawaban apa yang akan bapak sampaikan kepada mere­ka, kalau nanti terpilih sebagai wali kota?” tanya Eka.

Riza menjawab, ”Sekarang, kondisinya belum pasti. Kalau tidak terpilih sebagai wali kota, saya tentu kembali ke DPD. Tapi kalau terpilih, saya akan temui masyarakat, memberi penje­lasan, bahwa saya diberi amanah menjadi wali kota Payakumbuh. Saya nanti akan titipkan aspirasi mereka, kepada pengganti saya di DPD,?” ujar Riza.

Berikutnya, giliran pasangan Zainul Jusri-Supardi yang tam­pil. Terhadap pasangan ini, panelis Suhairizal kembali me­lem­par pertanyaan soal komit­men pemberantasan korupsi, moratorium PNS, dan upaya memperkuat lembaga pember­dayaan non formal. Supardi menyebut, ke depan perlu di­siap­kan Perda tentang KAN, untuk memperkuat fungsi dan posisi niniak-mamak.

Lalu pasa­ngan terakhir; Nusyirwan Nazar-Chandra Seti­pon, panelis menanyakan me­na­nyakan konsep standar pela­yanan publik yang akan dila­kukan pasagan ini. Panelis sem­pat kaget, saat Nusyirwan de­ngan ciri khasnya yang blak-blakan menjawab, saya lebih mengerti Payakumbuh, ketim­bang panelis. (***)



Share this Article on : Share

__________________________________________________________________________

0 komentar for "Tujuh Pasang Calon, Dibantai Dua Panelis"

Leave a reply